Selasa, 18 Desember 2018

Pemulihan Nama Baik


          Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga di sekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
            Ada peribahasa yang berbunyi “Daripada berputih mata lebih baik berputih tulang“ artinya orang lebih baik mati daripada malu. Betapa besar nilai nama baik itu sehingga nyawa menjadi taruhannya. Setiap orang tua selalu berpesan kepada anak-anaknya “Jagalah nama keluargamu!” Dengan menyebut “Nama” berarti sudah mengandung arti “nama baik”. Ada pula pesan orang tua “Jangan membuat malu!” Pesan itu juga berarti menjaga nama baik. Orang tua yang menghadapi anaknya yang sudah dewasa sering kali berpesan “Laksanakan apa yang kau anggap baik, dan jangan kau laksanakan apa yang kau anggap menjaga nama baik dirinya sendiri, yang berarti menjaga nama baik keluarga.
            Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakikatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
1)      Manusia menurut sifar dasarnya adalah makhluk moral.
2)      Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
             Pada hakikatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran modal atau tidak sesuai dengan akhlak.
            Akhlak berasal dari bahasa Arab “akhlaq”, bentuk jamak dari khuluq dan dari akar kata khlaq yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, tingkah laku dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan penciptaannya sebagai manusia. Untuk itu, orang harus bertingkah laku dan berbuat sesuai dengan akhlak yang baik.
            Ada tiga macam godaan yaitu derajat/pangkat, harta dan wanita. Bila orang tak dapat menguasai hawa nafsunya, maka orang akan terjerumus ke jurang kenistaan karena untuk memiliki derajat/pangkat, harta dan wanita itu dengan mempergunakan jalan yang tidak wajar. Jelas itu, antara lain, fitnah, membohong, suap, mencuri, merampok, dan menempuh semua jalan yang diharamkan.
            Hawa nafsu dan angan-angan merupakan sungai dan air. Hawa nafsu yang tidak tersalur melalui sungai yang baik, yang benar, akan meluap ke mana-mana yang akhirnya sangat berbahaya, menjerumuskan manusia ke lumpur dosa.
            Ada godaan halus, yang dalam bahasa Jawa, adigang, adigung, adiguna, yaitu membanggakan kekuasaan, kebesarannya dan kepandaiannya. Semua itu mengandung arti kesombongan.
            Untuk memulihkan nama baik, manusia harus tobat atau meminta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya di bibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat budi darma hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih saying, tanpa pamrih; takwa kepada Tuhan, daan mempunyai sikap rela, tawakkal jujur, dan budi luhur selalu dipupuk.

9 komentar: